Bagaimana Sebenarnya Wajah Gajah Mada? Wajah yang dikenal selama ini masih kontroversial.



Bagaimana Sebenarnya Wajah Gajah Mada?
Wajah yang dikenal selama ini masih kontroversial.

Senin, 22 Juni 2015 | 11:39 WIBOleh : Syahrul Ansyari, Dody Handoko
Bagaimana Sebenarnya Wajah Gajah Mada?

Wajah Gajah Mada dalam buku, (VIVA.co.id/ Dody Handoko)


VIVA.co.id - Sampai sekarang sebenarnya belum diketahui secara pasti wajah Gajah Mada. Wajah Patih Majapahit yang dikenal selama ini masih kontroversial. Wajah itu berdasarkan pendapat sejarawan Mohammad Yamin yang menemukan terakota di Trowulan yang ia sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada.

Sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Yamin, pengarang buku Gajah Mada Pahlawan Nusantara, cetakan tahun 1945. Keterangan pada buku itu berbunyi, arca tanah liat ini dapat digali didekat Puri Gajah Mada di Trowulan.

Ia dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan Gajah Mada. Ia berusaha mengkaji keberadaan tokoh Gajah Mada. Ada yang berpendapat bahwa wajah Gajah Mada dimiripkan dengan wajah Moh. Yamin. Patung terakota wajah Gajah Mada itu dapat dijumpai di museum Trowulan, Mojokerto, Jatim. 

"Bisa dibaca di keterangan terakota ini, bunyinya, celengan ini dibentuk seperti figur manusia dengan bermacam-macam jenis. Di antaranya figur wajah anak-anak dan figur wajah dewasa. Umumnya digambarkan dengan pipi tembem dan terdapat lubang koin di atasnya. Jadi tidak disebut khusus wajah Gajah Mada," kata petugas museum Majapahit, Subandi.

Beberapa sejarawan seperti Buchari (Fakultas Sastra Universitas Indonesia) dan S.I Purodisastro juga membantah. Buchari mengatakan bahwa itu bukan patung Gajah Mada. Itu hanya celengan peninggalan Majapahit yang ditemukan di Trowulan.

Bahkan S.I. Purodisastro mengatakan bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Zissenis menulis bahwa ‘celengan’ itu 'vermoedelijk een doodsmasker van Gajah Mada’ (boleh jadi topeng kematian Gajah Mada). Celengan semacam itu menurut S.I. Purodisastro berpeti-peti di gudang Dinas Purbakala di pekarangan candi Prambanan.

Yamin membantah. "Buktikan kalau itu bukan patung Gajah Mada," ujarnya saat itu. 

Sejarahwan UI, Agus Aris Munandar, dalam bukunya, "Gajah Mada, Biografi Politik", mempunyai pendapat lain tentang Gajah Mada dalam arca perwujudan. Di dalam buku itu dituliskan, ia melakukan kajian mendalam tentang arca-arca yang banyak ditemukan di beberapa tempat. Di antaranya koleksi arca batu di Museum Nasional bernomor inventaris 310d yang berasal dari Gunung Penanggungan. 

Ia sampai pada satu kesimpulan bahwa Gajah Mada merupakan tokoh yang dipuja-puja oleh pengikutnya. Untuk mengenangnya maka dibuatkan arca perwujudan, Gajah Mada disamakan dengan sosok Bima atau Brajanata.

Jika Gajah Mada digambarkan sebagai Brajanata maka arcanya memiliki ciri berbadan tegap, kumis melintang, rambut ikal berombak. Di bagian puncak kepala terdapat ikatan rambut dan terdapat pita membentuk seperti topi tekes. Busananya dilengkapi dengan perhiasan gelang dan kelat lengan atas berupa ular. Lingganya menonjol sehingga menyingkap kain yang menutupinya.

Sedangkan, jika digambarkan sebagai Bima, maka arcanya bercirikan badan tegap, lingganya menonjol menyingkap kain penutupnya, wajahnya sangar, kumis melintang dan mahkotanya supit urang.

Perbedaan penggambaran Gajah Mada pada kedua arca Brajanata dan Bima hanya pada model rambutnya saja. Brajanata rambutnya berbentuk tekes, sedangkan Bima berbentuk supit urang.

"Saya cenderung lebih sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh Sejarawan UI, Agus Aris Munandar. Juga mirip dengan cerita-cerita rakyat masyarakat Trowulan tentang sosok Gajah Mada," ujar budayawan Trowulan, Dimas Cokro Pamungkas.