Ayam Dihargai Rp7,5 Juta Gara-gara Lolos Masuk Makam Gus Dur



Ayam Dihargai Rp7,5 Juta Gara-gara Lolos Masuk Makam Gus Dur
Mohammad Arief Hidayat, Dody Handoko
Selasa, 9 Juni 2015, 05:54 WIB



VIVA.co.id - Makam mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berada di kompleks Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pesantren Tebuireng didirikan KH Hasyim Asyari. Di dalam pesantren terdapat kompleks makam keluarga keturunannya.

Selain KH Hasyim Asyari, di kompleks itu juga terdapat makam putra dan cucunya, yaitu Wahid Hasyim dan Gus Dur. Kompleks makam ini selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah, terutama pada hari libur.

Banyak beredar cerita unik tentang makam Gus Dur. Kisah itu diceritakan Dimas Cokro Pamungkas, budayawan yang juga pengurus organisasi pencak silat NU, Pagar Nusa, di Jombang.

Suatu hari seekor ayam yang masuk ke makam Gus Dur. Makam itu sedang dipenuhi peziarah. Di tengah khusuknya jemaah berdoa, tiba-tiba ada ayam bisa masuk ke area makam yang penuh sesak ribuan manusia. Ayam itu tersesat hingga sampai di makam Gus Dur.


Selain Gus Dur, Soeharto Akan Jadi Pahlawan Nasional
Ayam itu jadi perhatian banyak orang. Orang berebut menangkapnya. Setelah seorang berhasil menangkap ayam itu, si pemilik ayam dihubungi. Penangkap ayam rupanya bermaksud membeli ayam itu.

"Itu ayam barokah karena bukan sembarang ayam bisa lolos melewati ribuan orang sampai di makam Gus Dur, kata orang yang bermaksud membeli. Setelah tawar-menawar, ayam itu laku seharga Rp7,5 juta,” ujar Dimas.

Kisah lain terjadi sesaat setelah jenazah Gus Dur dimandikan. Tiba-tiba ada seorang yang mengaku pengusaha dari Jawa Timur datang menemui keluarga Gus Dur. Ia bermaksud membeli papan dan aneka alat yang dipergunakan untuk memandikan Gus Dur. Pembeli ini berkukuh membeli dan mengajukan tawaran harga awal sebesar Rp5 juta.

Melihat gelagat keluarga Gus Dur tak mau menjualnya, ia menaikkan tawaran hingga Rp15 juta. Lalu naik lagi Rp25 juta dan terakhir Rp50 juta. Tapi keluarga Gus Dur tak akan menjual papan dan aneka perkakas yang dipakai untuk memandikan jenazah Gus Dur.

"Keluarga Gus Dur tidak mau menjual karena khawatir akan digunakan untuk hal-hal yang menjurus ke syirik,” katanya.

Kejadian lain terjadi saat sore setelah waktu salat ashar rombongan hendak pulang, tiba-tiba dikagetkan berita bahwa ada satu orang anggota yang belum kembali. Akhirnya ketua rombongan mendatangi tempat tinggal keluarga Gus Dur di kompleks Pesantren Tebuireng dan melaporkan kejadian itu.

Oleh keluarga Gus Dur disarankan untuk diumumkan saja melalui pengeras suara masjid Tebuireng. Kira-kira dua jam kemudian setelah salat Maghrib, ketua rombongan mendapat panggilan telepon dari Polsek di Semarang yang mengabarkan bahwa orang yang dicari sudah kembali. Rupanya pria yang dicari itu mencari kantor polisi untuk minta disambungkan kepada kepala rombongan.

Keluarga Gus Dur kemudian dilapori bahwa yang dicari sudah ketemu, malah sudah di Semarang. Awalnya ia tak sadar apa yang terjadi. Lalu disuruhlah ketua rombongan menghubungi kembali pria yang hilang itu. Dari mulut pria itu didapat cerita bahwa dia ikut rombongan para habib yang naik bus yang melewati Semarang.

Pria yang dicari itu menceritakan kejadiannya, ia masuk ke area makam Gus Dur, lalu duduk di sebelah para habib berserban putih. Ia ikut mengaji. Tapi saat pulang ia tidak bertemu rombongan. Jadi akhirnya ia ikut rombongan yang pakai serban putih itu dan turun di Semarang.

Setelah mendengar cerita, rombongan yang berkumpul bersama seorang anggota keluarga Gus Dur menyadari ada yang aneh. “Jarak Jombang-Semarang yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu paling cepat enam jam hanya dilalui oleh rombongan itu cuma sekitar dua jam saja. Orang tadi hilang setelah ashar dan ditemukan magrib,” kata Dimas.

© VIVA.co.id